TAFSIR AYAT OBJEK
DAN SUBJEK PENDIDIKAN
Makalah ini
disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir
Disusun Oleh:
1.
Muhammad Abdul Kholiq (111-14-349)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
IAIN SALATIGA TAHUN 2016
BAB I
A.
LATAR BELAKANG
Alqur’anul Karim merupakan
firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Quran Al-Karim
memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satunya adalah
bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya di jamin oleh Allah, Dan
alqur’an merupakan kitab yang selalu dipelihara. Seorang muslim, tidak
dapat menghindarkan diri dari keterikatannya dengan Al-Quran. Seorang muslim
mempelajari Al-Quran tidak hanya mencari “kebenaran” ilmiah, tetapi juga
mencari isi dan kandungan Al-Quran.
Al-Quran sebagai pedoman
hidup manusia di dalamnya menyimpan berbagai mutiara yang mahal harganya yang
jika dianalisis secara mendalam sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Diantara mutiara tersebut adalah beberapa konsep pendidikan yang terkandung
dalam Al-Quran, diantara konsep tersebut adalah konsep awal pendidikan,
kewajiban belajar, tujuan pendidikan, objek dan subjek pendidikan.
Proses pendidikan dalam
kehidupan manusia tidak terlepas dari peran pendidik dan peserta didik itu
sendiri. Berhasil atau gagalnya pendidikan diantaranya ditentukan oleh kedua
komponen tersebut. Mulai dari kemapanan ilmu pengetahuan pendidik, sampai
kemampuan pendidik dalam menguasai objek pendidikan, berbagai syarat yang harus
dipenuhi oleh seorang pendidik, motivasi belajar peserta didik, kepribadian
anak didik dan tentu saja pengetahuan awal yang dikuasai oleh peserta didik.
Agar hasil yang direncanakan tercapai semaksimal mungkin. Disinilah pentingnya
pengetahuan tentang subjek pendidikan.
Maka dari itu dari uraian diatas dalam makalah ini akan membahas
tentang tafsir ayat al-Qur’an tentang objek dan subjek pendidikan.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa yang dimaksud dengan
pendidikan?
2.
Bagaimanakah tafsir ayat tentang
objek pendidikan?
3.
Bagaimanakah tafsir ayat tentang
subjek pendidikan?
C.
TUJUAN
1.
Untuk mengetagui konsep pendidikan.
2.
Untuk mengetahui tafsir ayat
tentang objek pendidikan.
3.
Untuk mengetahui tafsir ayat
tentang subjek pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENDIDIKAN
1.
Pengertian Pendidikan
Secara
etimologi pendidikan adalah orang yang
memberikan bimbingan. Dalam arti yang sederhana pendidikan sering diartikan
sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di
dalam masyarakat dan kebudayaan.[1]
Kemudian pengertian pendidikan lebih dikembangkan lagi, pendidikan diartikan
sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar
menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih
tinggi dalam arti mental.[2]
Sementara itu apabila melihat pendidikan dalam
perspektif Islam maka kata Islam dalam pendidikan Islam menunjukkan warna
pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam, pendidikan yang
Islami, yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam. Dengan demikian, nilai-nilai
ajaran agama Islam itu sangat mewarnai dan mendasari seluruh proses pendidikan.
Secara terminologi pengertian pendidikan banyak pakar
menafsirkannya. Diantara pakar-pakar tersebut diantaranya sebagai berikut:
Menurut Ki Hajar Dewantara dalam bukunya Zakiyah
Daradjat, bahwa pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi
pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek), dan jasmani anak-anak, selaras
dengan alam dan masyarakatnya.[3]
Sedangkan menurut Ahmad Tafsir pendidikan adalah
pengembangan pribadi dalam semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang
dimaksud pengembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri,
pendidikan oleh lingkungan, dan pendidikan oleh orang lain (guru).[4]
Dalam rangka yang lebih rinci, M.Yusuf al-Qardawi
memberikan pengertian, bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan manusia
seutuhnya yang meliputi akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan
keterampilannya. Karena itu, pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup
lebih baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk
menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan
pahitnya.[5]
Jadi menurut penulis pendidikan adalah bimbingan yang
diberikan kepada seseorang agar ia dapat berkembang secara maksimal, baik dari
segi pengetahuan, wawasan, karakter, keterampilann dan akhlaknya, sehingga
mampu menyiapkan dirinya untuk menghadapi keadaan zaman yang akan datang.
2. Tujuan Pendidikan
Dalam proses pendidikan, tujuan pendidikan merupakan
seperangkat sasaran kemana pendidikan tersebut akan diarahkan. Wujud tujuan
pendidikan dapat berupa pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Sehingga
tujuan pendidikan dapat dimaknai sebagai suatu sistem nilai yang disepakati
kebenarannya yang ingin dicapai melalui berbagai kegiatan, baik dijalur
pendidikan sekolah maupun luar sekolah.
Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah dalam bukunya Heri
Gunawan menyatakan bahwa tujuan pendidikan meliputi empat aspek, yaitu:
a) Tujuan Jasmani (adhaf al-jismiyah).
Bahwa proses pendidikan ditujukan dalam kerangka mempersiapkan diri manusia
sebagai pengemban tugas khalifah fi al-ardh, melalui pelatihan
keterampilan fisik.
b) Tujuan rohani dan Agama
Bahwa proses pendidikan ditujukan dalam kerangka meningkatkan pribadi
manusia.
c) Tujuan intelektual
Bahwa proses pendidikan ditujukan dalam rangka mengarahkan potensi
intelektual manusia untuk menemukan kebenaran dan
sebab-sebabnya, dengan menela’ah ayat-ayat-Nya yang membawa kepada perasaan
keimanan kepada Allah.
d) Tujuan sosial
Bahwa proses pendidikan ditujukan dalam kerangka pembentukan kepribadian
yang utuh.[6]
Jadi tujuan pendidikan meliputi tujuan dalam aspek
pembinaan akhlak, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian.
B. SUBJEK PENDIDIKAN
Subjek pendidikan sangat
berpengaruh sekali terhadap keberhasilan atau gagalnya pendidikan, disebabkan
banyak hal yang melatarbelakangi sipendidik.
Subjek pendidikan adalah
orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan,
sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek
pendidikan.
Subjek pendidikan yang
dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua, guru-guru di
institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat,
sedangkan pendidikan pertama (tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama
ini adalah rumah tangga (orang tua). Sebagai seorang muslim kita harus
menyatakan bahwa pendidik pertama manusia adalah Allah dan yang kedua adalah
Rasulullah.
Sebagai seorang pendidik
muslim seharusnya tidak hanya mengikuti konsep-konsep dan teori-teori
pendidikan yang berasal dari dunia barat belaka akan tetapi harus lebih paham
tentang konsep pendidikan dalam kaca mata Islam. Dengan demikian kita tidak
hanya membeo dengan konsep-konsep yang sedang tren saat ini, namun juga
mampu mengkritisi dan mengevaluasinya. Jika konsep-konsep yang tidak bersumber
dari Islam itu ternyata baik dan tidak bertentangan secara prinsip dengan apa
yang dijelaskan oleh al-Qur’an maka tidak ada salahnya untuk menggunakannya.
Demikian sebaliknya. Ayat-ayat tentang subjek pendidikan diantaranya sebagai
berikut
1.
QS. Al-Rahman 1-4
الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآَنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4)
Artinya: Al-Rahman, yang telah mengajarkan al-Qur'an, Dia
menciptakan manusia, mengajarkannya pandai berbicara.
a.
Penjelasan Ayat
Ar-Rahman ayat 1-4 ini
menjelaskan tentang bagaimana Allah dalam sifatnya Yang Maha Kasih Sayang telah
mengajarkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad saw. untuk kemudian dijadikan
landasan utama bagi kaum muslimin dalam mengarungi kehidupan di dunia.
Kata (الرحمن) ar-Rahman di dalam ayat itu
dimaksudkan adalah Allah. Yang mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad.
Dengan demikian hubungan antara Allah dan Nabi Muhammad adalah Allah sebagai
yang mengajar sementara Rasululllah sebagai Yang diajar.
Kata (علم) allama memerlukan dua objek. Banyak ulama yang
menyebutakan objeknya adalah kata al-insan yang disebutkan oleh ayat
berikutnya. Thabathai menambahkan dalam tafsir al-Misbah bahwa jin juga
termasuk karena surah ini ditujukan kepada manusia dan jin. Menurut Quraish
shihab objeknya bisa mencakup dua jenis tersebut. Malaikat Jibril yang menerima
dari Allah wahyu-wahyu Al-Quran untuk disampaiakan kepada Rasul saw., termasuk
juga yang diajar-Nya. Proses pengajaran tersebut tidak semata-mata malaikat
Jibril langsung mengajarkankannya, akan tetapi malaikat Jibril memperoleh
pengajaran terlebih dahulu dari Allah swt. Baru kemudian Jibril menyampaikan
firman Allah tersebut kepada Nabi Muhammad saw.
Kata (الانسان ( al-insan pada ayat ini
mencakup semua jenis manusia, sejak Adam as. Hingga akhir zaman.[7]
Kata (البينان) al-bayan pada mulanya berarti
jelas. Menurut tafsir Ibnu Katsir kata al-Bayan dijelaskan sebagai
pengajaran yaitu membaca al-Qur’an.[8]
Ada yang memaknai sebagai nama atau konsep dari segala hal. Ada yang
mengartikan bahasa. Ada yang menjelaskannya sebagai halal dan haram, petunjuk
dan kesesatan. Ada pula yang memaknai sebagai sesuatu yang telah terjadi dan
akan terjadi. Ada yang memaknainya
sebagai baik dan buruk. Ada yang menjelaskan sebagai kalam dan pemahaman yang membedakan antara manusia
dengan makhluk lainnya.
b.
Penjelasan Konteks Pendidikan
1)
Surat tersebut menyebutkan tentang
nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, maka
terlebih dahulu Allah menyebut nikamt yang merupakan nikmat terbesar kedudukannya
dan terbanyak manfaatnya, bahkan paling sempurna faedahnya, yaitu nikamat
diajarkannya Al-Qur’anul Karim. Karena dengan mengikuti Al-Qur’anul Karim, maka
diperohlah kebahagiaan di dunia dan akhirat dan dengan menempuh jalannya. Lalu
diperolehlah segala keinginan di dunia dan akhirat, karena Al-Qur’anlah puncak
dari segala kitab Samawi, yang telah diturunkan pada makhluk Allah yang
terbaik.[9]
2)
Dalam konteks pendidikan Allah
adalah pendidik pertama bagi manusia. Yakni mengajarkan kepada manusia tentang
baik dan buruk, halal dan haram dan sebagainya. Dalam posisi ini Allah adalah
pihak yang mengajarkan ajaran Islam atau syariat Islam sementara manusia adalah
yang diajar. Atau pihak yang menerima pengajaran dari Allah itu. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa Allah menjadi subjek pendidikan, sementara
objeknya adalah manusia yakni yang dididik oleh Allah (Muhammad).
2.
QS.Al-Najm 5-6
وَالنَّجْمِ إِذَا
هَوَى (1) مَا ضَلَّ
صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ
عَنِ الْهَوَى
(3) إِنْ هُوَ
إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5) ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى (6)
Artinya: Demi bintang ketika bertebaran, kawanmu
(Muhammad) tidak sesat tidak pula keliru, dan tidaklah yang diucapkannya itu
(al-Qur'an) menurut keinginannya, tidak lain (al-Qu'an) itu adalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan (oleh Jibril) yang sangat kuat.
a. Penjelasan Ayat
Kata (النجم) an-Najm dipahami oleh mayoritas
ulama dalam arti bintang secara umum, yakni yang memiliki cahaya dan
tampak bagi penghuni bumi. Ada juga yang memahami sebagai bintang sirus.
Tetapi, ada juga yang memahaminya dalam arti al-Qur’an. Ini karena
turunnya al-Qur’an sedikit demi sedikit, dilukiskan dalam bahasa dengan kata (منجم) munajjam.
Sementara lafadz (هوى) hawa ada yang memahami dalam arti
terbenam, yakni tidak terlihat kecemerlangan cahayanya. Ada juga yang
memahaminya dalam arti turun. Ada pula yang memaknai sebagai terbit, ada
pula yang memaknainya dengan tenggelam atau angslup.
Kemudian kata (علمه) ‘allamahu/diajarkan kepadanya,
bukan berarti bahwa wahyu tersebut berasal dari malaikat Jibril. Seorang yang
mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar.
Malaikat menerima wahyu dari Allah dengan tugas menaympaikannya secara baik dan
benar kepada Nabi saw..[10]
b.
Penjelasan Konteks Pendidikan
1)
Surat tersebut memposisikan Jibril sebagai yang mengajar sementara
Rasulullah adalah pihak yang diajar. Jibril sebari yang mengajar dijelaskan
sebagai yang sangat kuat. Dijelaskan pula kekuatan Jibril tersebut dengan
lafadz al-marrat, orang Arab menyebut orang yang memiliki daya dan akal
yang kuat, cerdas sebagai dzu marrat.
2) Ayat ini juga
menjelaskan bagaimana posisi pendidik sebagai subjek dan yang dididik sebagai
objek.
3) Selanjutnya mengacu
kepada karakter Jibril yang dalam hal itu diposisikan sebagai pendidik
Rasulullah, dia sebagai yang memiliki karakter kuat bahkan sangat kuat dan
teguh.
C. OBJEK PENDIDIKAN
1.
QS. Al-Syu’ara 214
Artinya: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekak”
a. Penjelasan Ayat
Menurut Ibn ‘Asyur dalam tafsir al-Misbah khitab dari
ayat tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. akan tetapi juga kepada siapa
saja yang membacanya. Artinya khitab ayat tersebut tidak terbatas, jadi
ditujukan kepada siapapun yang membaca ayat tersebut.
Kata (عشيرة) ‘asyirah diartikan sebagai anggota
suku yang terdekat. Keta tersebut terambil dari kata عا
شر)) ‘asyara yang
berarti saling bergaul kerena anggota suku yang terdekat atau keluarga adalah
orang-orang yang sehari-hari saling bergaul dengan kita.[11]
Sedangkat kata (الأقربين) al-aqrabin diartikan sebagai
orang-orang dekat dari mereka yang terdekat.
b.
Penjelasan Konteks Pendidikan
Jika dipahami dalam perspektif pendidikan, ayat
tersebut memposisikan Rasulullah sebagai
pemberi peringatan bagi keluarga-keluarga dekatnya. Sedangkan keluarga dekatnya
sebagai pihak yang di didik, dibimbing dan diarahkan oleh Rasulullah.
Memberi peringatan disini maksudnya tidak lain adalah
mendidik, mengarahkan, membimbing kerabat atau keluarga dekat untuk menjauhi
hal-hal kemusyrikan. Dengan demikian Rosulullah adalah sebagai subyek didiknya,
sedangkan anggota keluarganya sebagai sasaran dari pendidikan Rasulullah atau
sebagai Objek pendidikan.
[1]Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan
(umum dan agama Islam), (Jakarta: Rajawali Pers), 2012, hlm. 1.
[2]Sudirman N., dkk., Ilmu Pendidikan,
(Bandung: Remaja Rosda Karya), 1992, hlm. 4.
[3]Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam,
(Jakarta: Bumi Aksara), 1992, hlm. 4.
[4]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam
Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya), 1994, hlm. 26.
[5]Yusuf Al-Qardawi, Pendidikan Islam dan
Madrasah Hasan Al-Banna, terj. Prof. H. Bustami A. Gani dan Drs. Zainal
Abidin Ahmad, (Jakarta: Bulan Bintang), 1980, hlm. 157.
[6]Heri Gunawan, Pendidikan Islam; kajian
teoritis dan pemikiran tokoh, (Bandung: Remaja Rosdakarya), 2014, hlm.
10-11.
[7]M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; pesan,
kesan, dan keserasian Al-Qur’an volume13, (Jakarta: Lentera Hati), 2002,
hlm. 277-278.
[8]Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, kemudahan dari
Allah; ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, trej. Syihabuddin, (Jakarta: Gema
Insan Pers), 2000, hlm. 540.
[9]Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi
volume 27, (Semarang: PT Karya Toha Putra), 1989, hlm. 187.
[10]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah;pesan,
kesan dan keserasian al-Qur’an volume 13, (Jakarta: Lentera Hati),
2014, hlm. 171-174.
[11]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah;pesan,
kesan dan keserasian al-Qur’an volume 9, (Jakarta: Lentera Hati),
2014, hlm. 171-174.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar