Kamis, 20 April 2017

TAFSIR OBJEK DAN SUBJEK PENDIDIKAN




TAFSIR AYAT OBJEK DAN SUBJEK PENDIDIKAN
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir
Dosen pengampu: M Ircham, Lc., M.Pd.I.




Disusun Oleh:
1.      Muhammad Abdul Kholiq                  (111-14-349)


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
IAIN SALATIGA TAHUN 2016






BAB I
PENDAHULUAN
A.           LATAR BELAKANG
Alqur’anul Karim merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satunya adalah bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya di jamin oleh Allah, Dan alqur’an merupakan kitab yang selalu dipelihara. Seorang muslim, tidak dapat menghindarkan diri dari keterikatannya dengan Al-Quran. Seorang muslim mempelajari Al-Quran tidak hanya mencari “kebenaran” ilmiah, tetapi juga mencari isi dan kandungan Al-Quran.
Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia di dalamnya menyimpan berbagai mutiara yang mahal harganya yang jika dianalisis secara mendalam sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Diantara mutiara tersebut adalah beberapa konsep pendidikan yang terkandung dalam Al-Quran, diantara konsep tersebut adalah konsep awal pendidikan, kewajiban belajar, tujuan pendidikan, objek dan subjek pendidikan.
Proses pendidikan dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari peran pendidik dan peserta didik itu sendiri. Berhasil atau gagalnya pendidikan diantaranya ditentukan oleh kedua komponen tersebut. Mulai dari kemapanan ilmu pengetahuan pendidik, sampai kemampuan pendidik dalam menguasai objek pendidikan, berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik, motivasi belajar peserta didik, kepribadian anak didik dan tentu saja pengetahuan awal yang dikuasai oleh peserta didik. Agar hasil yang direncanakan tercapai semaksimal mungkin. Disinilah pentingnya pengetahuan tentang subjek pendidikan.
Maka dari itu dari uraian diatas dalam makalah ini akan membahas tentang tafsir ayat al-Qur’an tentang objek dan subjek pendidikan.




B.     RUMUSAN MASALAH
1.         Apa yang dimaksud dengan pendidikan?
2.         Bagaimanakah tafsir ayat tentang objek pendidikan?
3.         Bagaimanakah tafsir ayat tentang subjek pendidikan?
C.    TUJUAN
1.      Untuk mengetagui konsep pendidikan.
2.      Untuk mengetahui tafsir ayat tentang objek pendidikan.
3.      Untuk mengetahui tafsir ayat tentang subjek pendidikan.





















BAB II
PEMBAHASAN
A.      PENDIDIKAN
1.         Pengertian Pendidikan
Secara etimologi pendidikan adalah orang yang memberikan bimbingan. Dalam arti yang sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.[1] Kemudian pengertian pendidikan lebih dikembangkan lagi, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.[2]
Sementara itu apabila melihat pendidikan dalam perspektif Islam maka kata Islam dalam pendidikan Islam menunjukkan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam, pendidikan yang Islami, yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam. Dengan demikian, nilai-nilai ajaran agama Islam itu sangat mewarnai dan mendasari seluruh proses pendidikan.
Secara terminologi pengertian pendidikan banyak pakar menafsirkannya. Diantara pakar-pakar tersebut diantaranya sebagai berikut:
Menurut Ki Hajar Dewantara dalam bukunya Zakiyah Daradjat, bahwa pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek), dan jasmani anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya.[3]
Sedangkan menurut Ahmad Tafsir pendidikan adalah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang dimaksud pengembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, dan pendidikan oleh orang lain (guru).[4]
Dalam rangka yang lebih rinci, M.Yusuf al-Qardawi memberikan pengertian, bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya yang meliputi akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena itu, pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup lebih baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.[5]
Jadi menurut penulis pendidikan adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang agar ia dapat berkembang secara maksimal, baik dari segi pengetahuan, wawasan, karakter, keterampilann dan akhlaknya, sehingga mampu menyiapkan dirinya untuk menghadapi keadaan zaman yang akan datang.
2.    Tujuan Pendidikan
Dalam proses pendidikan, tujuan pendidikan merupakan seperangkat sasaran kemana pendidikan tersebut akan diarahkan. Wujud tujuan pendidikan dapat berupa pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Sehingga tujuan pendidikan dapat dimaknai sebagai suatu sistem nilai yang disepakati kebenarannya yang ingin dicapai melalui berbagai kegiatan, baik dijalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah.
Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah dalam bukunya Heri Gunawan menyatakan bahwa tujuan pendidikan meliputi empat aspek, yaitu:
a)      Tujuan Jasmani (adhaf al-jismiyah).
Bahwa proses pendidikan ditujukan dalam kerangka mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah fi al-ardh, melalui pelatihan keterampilan fisik.
b)      Tujuan rohani dan Agama
Bahwa proses pendidikan ditujukan dalam kerangka meningkatkan pribadi manusia.
c)      Tujuan intelektual
Bahwa proses pendidikan ditujukan dalam rangka mengarahkan potensi intelektual manusia untuk menemukan kebenaran dan
sebab-sebabnya, dengan menela’ah ayat-ayat-Nya yang membawa kepada perasaan keimanan kepada Allah.
d)     Tujuan sosial
Bahwa proses pendidikan ditujukan dalam kerangka pembentukan kepribadian yang utuh.[6]
Jadi tujuan pendidikan meliputi tujuan dalam aspek pembinaan akhlak, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian.

B.       SUBJEK PENDIDIKAN
Subjek pendidikan sangat berpengaruh sekali terhadap keberhasilan atau gagalnya pendidikan, disebabkan banyak hal yang melatarbelakangi sipendidik.
Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan.
Subjek pendidikan yang dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua, guru-guru di institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat, sedangkan pendidikan pertama (tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama ini adalah rumah tangga (orang tua). Sebagai seorang muslim kita harus menyatakan bahwa pendidik pertama manusia adalah Allah dan yang kedua adalah Rasulullah.
Sebagai seorang pendidik muslim seharusnya tidak hanya mengikuti konsep-konsep dan teori-teori pendidikan yang berasal dari dunia barat belaka akan tetapi harus lebih paham tentang konsep pendidikan dalam kaca mata Islam. Dengan demikian kita tidak hanya membeo dengan konsep-konsep yang sedang tren saat ini, namun juga mampu mengkritisi dan mengevaluasinya. Jika konsep-konsep yang tidak bersumber dari Islam itu ternyata baik dan tidak bertentangan secara prinsip dengan apa yang dijelaskan oleh al-Qur’an maka tidak ada salahnya untuk menggunakannya. Demikian sebaliknya. Ayat-ayat tentang subjek pendidikan diantaranya sebagai berikut
1.        QS. Al-Rahman 1-4
الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآَنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4)
Artinya: Al-Rahman, yang telah mengajarkan al-Qur'an, Dia menciptakan manusia, mengajarkannya pandai berbicara.

a.       Penjelasan Ayat
               
Ar-Rahman ayat 1-4 ini menjelaskan tentang bagaimana Allah dalam sifatnya Yang Maha Kasih Sayang telah mengajarkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad saw. untuk kemudian dijadikan landasan utama bagi kaum muslimin dalam mengarungi kehidupan di dunia.
Kata (الرحمن) ar-Rahman di dalam ayat itu dimaksudkan adalah Allah. Yang mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad. Dengan demikian hubungan antara Allah dan Nabi Muhammad adalah Allah sebagai yang mengajar sementara Rasululllah sebagai Yang diajar.
Kata (علم) allama memerlukan dua objek. Banyak ulama yang menyebutakan objeknya adalah kata al-insan yang disebutkan oleh ayat berikutnya. Thabathai menambahkan dalam tafsir al-Misbah bahwa jin juga termasuk karena surah ini ditujukan kepada manusia dan jin. Menurut Quraish shihab objeknya bisa mencakup dua jenis tersebut. Malaikat Jibril yang menerima dari Allah wahyu-wahyu Al-Quran untuk disampaiakan kepada Rasul saw., termasuk juga yang diajar-Nya. Proses pengajaran tersebut tidak semata-mata malaikat Jibril langsung mengajarkankannya, akan tetapi malaikat Jibril memperoleh pengajaran terlebih dahulu dari Allah swt. Baru kemudian Jibril menyampaikan firman Allah tersebut kepada Nabi Muhammad saw.
Kata (الانسان ( al-insan pada ayat ini mencakup semua jenis manusia, sejak Adam as. Hingga akhir zaman.[7]
Kata (البينان) al-bayan pada mulanya berarti jelas. Menurut tafsir Ibnu Katsir kata al-Bayan dijelaskan sebagai pengajaran yaitu membaca al-Qur’an.[8] Ada yang memaknai sebagai nama atau konsep dari segala hal. Ada yang mengartikan bahasa. Ada yang menjelaskannya sebagai halal dan haram, petunjuk dan kesesatan. Ada pula yang memaknai sebagai sesuatu yang telah terjadi dan akan terjadi. Ada yang memaknainya sebagai baik dan buruk. Ada yang menjelaskan sebagai kalam dan pemahaman yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya.
b.    Penjelasan Konteks Pendidikan
1)      Surat tersebut menyebutkan tentang nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, maka terlebih dahulu Allah menyebut nikamt yang merupakan nikmat terbesar kedudukannya dan terbanyak manfaatnya, bahkan paling sempurna faedahnya, yaitu nikamat diajarkannya Al-Qur’anul Karim. Karena dengan mengikuti Al-Qur’anul Karim, maka diperohlah kebahagiaan di dunia dan akhirat dan dengan menempuh jalannya. Lalu diperolehlah segala keinginan di dunia dan akhirat, karena Al-Qur’anlah puncak dari segala kitab Samawi, yang telah diturunkan pada makhluk Allah yang terbaik.[9]
2)      Dalam konteks pendidikan Allah adalah pendidik pertama bagi manusia. Yakni mengajarkan kepada manusia tentang baik dan buruk, halal dan haram dan sebagainya. Dalam posisi ini Allah adalah pihak yang mengajarkan ajaran Islam atau syariat Islam sementara manusia adalah yang diajar. Atau pihak yang menerima pengajaran dari Allah itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Allah menjadi subjek pendidikan, sementara objeknya adalah manusia yakni yang dididik oleh Allah (Muhammad).
2.        QS.Al-Najm 5-6
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى
(3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5) ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى (6)

Artinya: Demi bintang ketika bertebaran, kawanmu (Muhammad) tidak sesat tidak pula keliru, dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Qur'an) menurut keinginannya, tidak lain (al-Qu'an) itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan (oleh Jibril) yang sangat kuat.

a.       Penjelasan Ayat
Kata (النجم) an-Najm dipahami oleh mayoritas ulama dalam arti bintang secara umum, yakni yang memiliki cahaya dan tampak bagi penghuni bumi. Ada juga yang memahami sebagai bintang sirus. Tetapi, ada juga yang memahaminya dalam arti al-Qur’an. Ini karena turunnya al-Qur’an sedikit demi sedikit, dilukiskan dalam bahasa dengan kata (منجم) munajjam.
Sementara lafadz (هوى) hawa ada yang memahami dalam arti terbenam, yakni tidak terlihat kecemerlangan cahayanya. Ada juga yang memahaminya dalam arti turun. Ada pula yang memaknai sebagai terbit, ada pula yang memaknainya dengan tenggelam atau angslup.
Kemudian kata (علمه) ‘allamahu/diajarkan kepadanya, bukan berarti bahwa wahyu tersebut berasal dari malaikat Jibril. Seorang yang mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar. Malaikat menerima wahyu dari Allah dengan tugas menaympaikannya secara baik dan benar kepada Nabi saw..[10]
b.      Penjelasan Konteks Pendidikan
1)      Surat tersebut memposisikan Jibril sebagai yang mengajar sementara Rasulullah adalah pihak yang diajar. Jibril sebari yang mengajar dijelaskan sebagai yang sangat kuat. Dijelaskan pula kekuatan Jibril tersebut dengan lafadz al-marrat, orang Arab menyebut orang yang memiliki daya dan akal yang kuat, cerdas sebagai dzu marrat.
2)      Ayat ini juga menjelaskan bagaimana posisi pendidik sebagai subjek dan yang dididik sebagai objek.
3)      Selanjutnya mengacu kepada karakter Jibril yang dalam hal itu diposisikan sebagai pendidik Rasulullah, dia sebagai yang memiliki karakter kuat bahkan sangat kuat dan teguh.

C.      OBJEK PENDIDIKAN
1.         QS. Al-Syu’ara 214
Artinya: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekak”
a.    Penjelasan Ayat
Menurut Ibn ‘Asyur dalam tafsir al-Misbah khitab dari ayat tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. akan tetapi juga kepada siapa saja yang membacanya. Artinya khitab ayat tersebut tidak terbatas, jadi ditujukan kepada siapapun yang membaca ayat tersebut.
Kata (عشيرة) ‘asyirah diartikan sebagai anggota suku yang terdekat. Keta tersebut terambil dari kata عا شر)) ‘asyara yang berarti saling bergaul kerena anggota suku yang terdekat atau keluarga adalah orang-orang yang sehari-hari saling bergaul dengan kita.[11]
Sedangkat kata (الأقربين) al-aqrabin diartikan sebagai orang-orang dekat dari mereka yang terdekat.
b.         Penjelasan Konteks Pendidikan
Jika dipahami dalam perspektif pendidikan, ayat tersebut memposisikan  Rasulullah sebagai pemberi peringatan bagi keluarga-keluarga dekatnya. Sedangkan keluarga dekatnya sebagai pihak yang di didik, dibimbing dan diarahkan oleh Rasulullah.
Memberi peringatan disini maksudnya tidak lain adalah mendidik, mengarahkan, membimbing kerabat atau keluarga dekat untuk menjauhi hal-hal kemusyrikan. Dengan demikian Rosulullah adalah sebagai subyek didiknya, sedangkan anggota keluarganya sebagai sasaran dari pendidikan Rasulullah atau sebagai Objek pendidikan.












                                     


[1]Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (umum dan agama Islam), (Jakarta: Rajawali Pers), 2012, hlm. 1.
[2]Sudirman N., dkk., Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya), 1992, hlm. 4.
[3]Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara), 1992, hlm. 4.
[4]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya), 1994, hlm. 26.
[5]Yusuf Al-Qardawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, terj. Prof. H. Bustami A. Gani dan Drs. Zainal Abidin Ahmad, (Jakarta: Bulan Bintang), 1980, hlm. 157.
[6]Heri Gunawan, Pendidikan Islam; kajian teoritis dan pemikiran tokoh, (Bandung: Remaja Rosdakarya), 2014, hlm. 10-11.
[7]M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an volume13, (Jakarta: Lentera Hati), 2002, hlm. 277-278.
[8]Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, kemudahan dari Allah; ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, trej. Syihabuddin, (Jakarta: Gema Insan Pers), 2000, hlm. 540.
[9]Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi volume 27, (Semarang: PT Karya Toha Putra), 1989, hlm. 187.
[10]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah;pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an volume 13, (Jakarta: Lentera Hati), 2014, hlm. 171-174.
[11]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah;pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an volume 9, (Jakarta: Lentera Hati), 2014, hlm. 171-174.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar